Skip to main content

Hargo Dumilah tanggal 9 Maret 2026

10 Maret 2026.

Aku melihat secarik kertas yang tergeletak di Kasur. Itu surat wasiat ke-5 yang tidak aku gunakan. Isinya kurang lebih masih sama dengan yang pertama, dengan pertambahan apa dan yang jangan dilakukan setelah aku tiada. Hari ini aku robek dan kupastikan tidak bisa dibaca siapa-siapa. Setelah itu aku duduk di meja kayu kost ini dan mulai menulis. Aku bersyukur atas seluruh nikmat yang Tuhan berikan sampai detik ini. Jatah nyawa masih banyak, Tuhan masih mau aku ada di dunia. Masih ada pekerjaan besar yang menunggu, nubuat baik yang aku aminkan.

Ini ceritaku saat pendakian Lawu tanggal 8 maret lalu.

Awal bulan Maret aku dikejutkan dengan banyak hal. Pekerjaan di kantor yang seperti tiada berakhir, masalah batin tentang keluarga yang tidak kunjung usai, pertemanan yang penuh tanda tanya, dan lain sebagainya. Jenuh dengan kondisi seperti itu, aku memerintahkan hatiku untuk beristirahat. Aku yang sedang rebahan di senin malam yang hujan, mengambil hp dan segera menggeledah isi bookmark Instagram. Isinya kurang lebih: Soobin, manhwa, AKB, dan gunung. Menatap layar benda kecil itu membuat pikiranku lebih tenang, hantaman endorphin yang memuaskan otakku. Setelah berjam-jam doomscrolling, mataku berhenti di postingan hamparan sabana gunung Lawu yang melegenda. Aku mengingat kembali pendakianku tahun lalu di tempat itu, bisa kubilang pendakian yang gagal karena tidak berhasil mencapai puncak, namun sangat puas karena kesananya bersama orang orang yang aku kenal. Ada kesenangan tersendiri dapat berjalan dan mengeluh dengan orang yang memiliki pemahaman yang sama.

Kali itu aku secara spontan mencari jasa open trip yang menyediakan layanan buka bulan puasa, yang dimana sangat sedikit, mengingat juga karena cuaca yang sangat tidak bersahabat. Bertemulah aku dengan mbak Tata, admin Tiga Dewa Adventure yang ramah dan superfast-respond. Aku mendaftar sebagai peserta pendakian Lawu tanggal 7 sampai 8 maret, lalu langsung dipindah jadwal ke 8 sampai 9 maret, karena pesertanya terlalu sedikit. Aku iyakan dan segera aku masuk ke grup whatsapp.

Seperti yang aku duga, pesertanya tidak sampai 10 orang, dan hampir kesemuannya itu orang Kristen. Aku bercanda pada mereka kalau ini bukan pendakian, tapi semacam ibadah padang. Yesus hadir di tengah-tengah kami. Haleluya Segera setelah mendaftar, aku punya sekitar 1 minggu untuk bersiap-siap. Latihan beban, berenang, dan meditasi. Kujalani dengan giat seminggu itu agar kondisi fisikku prima. Tidak mau mengulangi gagal summit tahun lalu. Aku juga sempat membeli baju baru yang nyaman dipakai untuk aktivitas berat, dan membeli matras baru karena matras yang lama hilang. Di tengah padatnya jadwal piket di kantor, aku menyempatkan untuk mempersiapkan kesemuanya itu.

Di hari sabtu, aku ditugaskan untuk lembur piket. Lumayan, pikirku, untuk ongkos. Malamnya aku berangkat dari basecamp Tiga Dewa di Halim sekitar jam 7 lewat. Minibus itu diisi oleh 10 orang, dan ternyata ada tambahan peserta 1 lagi dari Cikarang. Total ada 11 orang yang ikut pendakian. Malam itu tanggal 7 Maret dan kami berangkat dengan ceria. Aku berkenalan dengan kesemua orang itu. Kusebutkan semua: kak Conny, kak Glenn, kak Eli, Aldo, Yohana, Gladys, si kembar Ana dan Ani, kak Febri, dan Fauzan. Aku menghafal semuanya dengan cepat, karena besok kami akan berpetualang bersama. Disitu juga ada, mas Azis sebagai tour leader, pemuda yang mungkin usianya sama denganku, dengan perawakan khas tinggi kurus, sedikit stylist dengan kaos dan jeans. Sambil merokok ia mengajakku mengobrol karena tau aku datang sendirian, tidak seperti yang lain datang berkelompok 2 sampai 4 orang.
Kami berhenti di rest area khusus di pinggir kota Cirebon, disana tersedia menu lengkap makanan dan jajanan. Aku sengaja tidak makan karena mau cepat tidur saja, mengingat besok aku butuh kondisi yang prima untuk mendaki. Aku sempatkan untuk beli beberapa obat-obatan di indomaret sebelum akhirnya minibus kami Kembali meluncur ke Lokasi basecamp.

Kami tiba pukul 6 pagi, saat matahari sudah sedikit muncul di cakrawala. Hawa dingin menusuk segera setelah kakiku melangkah keluar minibus. Aku yang tidak mau terburu-buru, menikmati secangkir kopi gayo sambil melihat pemandangan. Disitu aku bertemu dengan warga lokal yang sedang memanen kol. Mbah R (kusebut begitu karena lupa kenalan) bilang kalau pendakian akan sulit karena beberapa hari ini hujan. Aku yang sudah siap mental meng-iya-kan dan meminta doa agar aku selamat. Ia bercerita bahwa dirinya yang sudah berusia 70 juga masih sanggup untuk naik ke puncak, tidak mau kalah denganku. Aku menatapnya penuh percaya dan mencoba bercanda dengan menyuruhnya menggendongku sampai ke puncak. Gelak tawa pecah darinya dan segera disambung oleh panggilan mas Aziz kepadaku untuk segera bersiap.

Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi, memulai perjalanan dari 1440 mdpl menuju 3265 mdpl. Elevansi setinggi itu, dengan total jarak 9.5km, bertarung melawanku dan 13kg tas carrier yang aku sewa. Aku siap dengan segala kemungkinan yang ada. Perjalanan menuju pos 1 (Mbah Branti) mudah dilalui oleh ku dan seluruh tim. Namun tetap kami berhenti di sebuah warung yang tutup untuk menenggak air dan makan cokelat. Di sana juga terdapat 3 orang yang melakukan ekspedisi yang sama, namun bukan bagian dari tim. Satu laki-laki dan dua wanita, kami berkenalan dan saling memberi semangat.

Sampai pos 2 (Brakseng) tim terpecah menjadi tiga. Leader dengan si kembar, aku bersama kak Conny, Yohana dan Gladys. Dan sisanya Bersama sweeper. Trek yang mulai terus menanjak mulai membuatku berkeringat. Matahari secara perlahan tertutup awan hitam yang menakutkan. Mbah R benar, memang akan hujan. Kami mempercepat langkah kami, karena sebentar lagi tanjakannya akan semakin sulit dan vegetasi hutan akan semakin rapat. Tiada ampun untuk pergelangan kaki dan tempurung lutut. Ancaman hipotermia dari angin dan basah menghantui setiap langkah kami.

Akar pohon besar menjuntai di tanah, Bagai urat yang kelihatan di lengan. Aku memberi fokus penuh pada kakiku, karena aku harus lebih cepat dari biasanya. Setidaknya, setengah perjalanan harus sudah lunas sebelum hujan turun.
Tidak lama setelahnya, kami sampai di pos 3 (Cemoro Dowo) di ketinggian 2236 mdpl. Hujan deras menyambut kita yang kelelahan dengan kejam. Aku sedang Bersama dengan Yohana dan Gladys. Kami mlipir ke pos shelter dan segera memakai jas hujan, kami sempatkan mengisi tenaga dengan makan perbekalan yang ada. Sambil menunggu hujan deras ini (pikir kami). Kilat menyambar dan angin membawa kabut putih tebal yang menutup pandangan. Suasananya penuh cekam tapi akua man karena sedang Bersama banyak orang. Segera kami disusul tim belakang yang sama-sama mlipir k epos shelter. Aku melihat aliran air bak air hujan bergerak kencang di lipatan tanah. Satu-satunya yang kelihatan Adalah warna putih yang samar dan suara angin Bagai berteriak

Menunggu lama hanya akan membuat badan menggigil, bajuku sudah sedikit basah karena keringat, dan kulihat teman-teman lain merasakan hal yang sama, membuat kami akhirnya sepakat untuk melanjutkan perjalanan di Tengah badai itu.
Kami mengerahkan seluruh tenaga agar bisa cepat sampai. Di area itu, banyak percabangan jalan yang baru dibuat selama bulan februari kemarin. Kami mencoba menapaki jalan baru itu, yang ternyata sama sulitnya dilewati sama dengan jalur biasa. Jalur tersebut lebih jauh, dan masih segar oleh Semak belukar yang ditekan. Sekali dua kali kakiku serasa ditarik oleh rumput Panjang yang kusut. Aku juga kesulitan menapak karena tanahnya tidak kelihatan, kakiku sering terjerembab jauh ke dalam Semak belukar. Pohon tumbang, rumput yang sulit dilewati, ulat bulu yang menempel. Aku hanya bisa bergeleng dan menahan Lelah, karena kulihat Yohana dan Gladys masih semangat dan bisa tersenyum. Mereka membuatku semangat juga.

Setelah menahan dingin kami akhirnya sampai di pos 4 (Pengkik) di ketinggian 2525mdpl. Senang karena kita sudah bertahan sejauh itu, namun sedih karena hujan masih tanpa ampun mengguyur kami. Aku sudah tidak bisa menggerakkan jariku yang kedinginan. Aku berteriak ke Yohana dan Gladys untuk melipir dulu ke pos shelter untuk berganti baju. Taruhannya adalah, itu baju harusnya digunakan untuk summit attack besok, kalau misalnya basah, aku tidak punya apapun lagi untuk dikenakan. Tapi aku tidak mau ambil risiko kedinginan dan berakhir hipotermia. Jadi kuputuskan untuk ganti baju saja. Di Tengah itu aku juga merasa sesuatu mengalir bersamaan dengan hujan. Apakah aku sedang datang bulan? Aku telah menghitung sebelumnya dan harusnya jatuh di akhir bulan. Tapi saat itu aku abaikan saja, karena terlalu sulit untuk mengganti semuanya di pos shelter yang mau rubuh itu.

Setelah berganti baju kering aku rasanya terlahir Kembali, tanganku yang baal bisa sedikit merasakan kehangatan. Aku melangkah dengan semangat baru, dengan sisa sisa tenaga. Tidak ada bedanya pagi, siang atau sore. Hutan gunung Lawu terasa gelap dan dingin. Yang menemani kami hanya juntaian rumput dan pohon. Kami mulai sering berhenti, dengan nafas mulai tidak beraturan karena oksigen yang makin tipis.

Kami bergerak terus Karena takut kedinginan, dan dengan bangga mencapai sabana kecil. Masih dengan pemandangan yang sama, kami menerka jalan yang akan kami lalui. Saat itu hanya ada warna putih. Jalanan landai dan didominasi rumput khas sabana yang pendek. Disitu kami mulai kehilangan arah.

Ada banyak percabangan jalan dan tiang batas. Sepertinya ini sudah sampai camp area, namun tim kami berpisah dengan leader dan sweeper. Ini gawat. Kami bertiga mencoba menenangkan satu sama lain tapi aku yakin mereka juga takut.

“Ini sudah camp area, mereka ada di sekitar sini!” kataku menguatkan.

Kami secara sembarangan mencoba mengitari jalan bercabang itu satu persatu, dan diakhiri selalu dengan jalan buntu.

“Kita coba jalan lain,” kataku lagi menguatkan.

Tidak kunjung ketemu, aku yang sudah mulai kedinginan dan bagian bawahku yang mengkhawatirkan akhirnya berteriak memanggil tim dari open trip.

“Tiiigaaaaaaaa dewaaaaaaaaaaaaa” teriakku.

Yohana dan Gladys ikutan teriak. Kami bertiga mengitari cabang jalan sambil berteriak. Kalau diingat Kembali, pengalaman itu menakutkan dan menggelikan.
Dengan samar aku mendengar teriakan tipis dari ujung mataku, “woooi!!”
Aku Kembali ceria dan memberikan kabar baik ini kepada mereka berdua, “itu ada orang!”
Kami yang tersesat akhirnya menemukan jalan yang benar dan segera setelah raungan dari orang asing itu, kami sampai di pos 5 di ketinggian 2870 mdpl, sabana luas yang legendaris.
Ternyata yang teriak itu mas Timin, yang telah menyiapkan tenda untuk kami bermalam. Rasa kesal, takut, dan lelah itu tumpah menjadi isak tangis. Wajahku yang beku kembali merona. Aku langsung mengeluh kepada mas Timin, tentang bagaimana sulitnya menemukan tenda kami. Mas Timin terburu buru membukakan tenda kami, dan segera memberi kami masing-masing secangkir teh panas sembari kami meletakkan carrier.
Kami berganti baju bebarengan, dan ternyata benar dugaanku. Bulan datang dengan tiba-tiba. Aku kesal bukan main, kenapa harus sekarang coba? Sugesti sakit perut datang pula. Saat itu rasanya badanku seperti dilindas inova matic. Yohanna dan Gladys menatapku kasihan.

Setelah akhirnya bisa menghangatkan diri dengan heattech yang kubeli di Uniqlo seharga 800ribu itu, rasanya semua ada hikmahnya. Berhasil melewati semua itu dalam kondisiku yang tidak prima membuatku bangga. Bayangkan seberapa monster diriku saat aku sedang prima? Kalian semua akan menekuk lutut dan meminta belas kasihanku!

Tapi masalahnya, trashbag yang kubuat penghalau air masuk ke carrierku itu bocor, mengakibatkan sleeping bag milikku agak basah bagian bawahnya. Aku mencoba menghangatkan diri dengan bagian sleeping bag yang kering. Raungan angin masih bergelora, dan hujan sepertinya masih enggan untuk berhenti. Saat itu pukul 7 malam dan seluruh anggota tim telah sampai di camp area. Teman satu tendaku: Yohanna, Gladys dan kak Conny. Mereka tidur duluan sedangkan aku pergi ke tenda darurat untuk mencari Solusi atas sleeping bagku yang basah setengah. Mas Timin dan mas Aziz menawarkan untuk memakai sleeping bag milik mereka. Tapi aku tidak mau. Itu keterlaluan. Mereka mau tidur pakai sarung saja? Ini semua salahku karena tidak mempersiapkan dengan baik.

Karena itu, aku mencoba mengeringkan sleeping bagku dengan menggunakan perapian dapur darurat itu. Mas timin menggoreng donat dan cireng, memberikannya padaku dan menyuruhku menghabiskan sepiring penuh. Aku bercanda kalau nanti aku gendut kalo makan semuanya.

Di Tengah kehangatan itu, 3 orang yang bertemu denganku di pos 1 itu akhirnya datang juga, dengan kondisi yang sepertinya sama mengenaskannya dengan diriku. Mereka meminta sedikit perbekalan kami, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk memasak di luar tenda.

Tim tiga dewa menyambut mereka seakan mereka tamu mereka, menawarkan teh dan soto. Mereka ini orang baik dan all out. Perbuatan mereka akan kuingat dalam hatiku, kelak kalau ketemu lagi aku pasti sapa. Mas Aziz cerita, kalau dirinya sebenarnya takut kalau kita kenapa-kenapa. Masih segar diingatan mereka, kasus orang hilang di Lawu, yang sampai belasan hari baru ketemu. Titik lokasinya jauh dari jalur utama. Penyebabnya? Misteri. Mas Aziz mengaku ikut dalam evakuasi Bersama tim relawan yang lain.
Aku bilang ke dia kalau kami orangnya Tangguh semua. Kalaupun ada apa-apa pasti teriak minta tolong. Kayak tadi.

Mas Timin melempar batang kayu baru ke perapian. Menawarkanku donat untuk yang ke 10 kalinya. Malam makin larut dan aku menyelesaikan bincang Santai, kurasa sleeping bag ku juga sudah kering. Aku tidur dengan sangat tidak nyaman malam itu. Kram perut hebat mulai terasa. Bolak balik aku lihat jam garmin di tangan, stress level di puncak, body battery di ujung tanduk. Aku coba mengatur nafas dan berdoa. Tepat jam 11 malam, angin mulai reda, tapi dinginnya mulai menusuk. Embun tembus ke dalam tenda dan kepalaku terkena percikannya. Embun itu berasa es. Dingin yang gak masuk akal. Aku terus terbangun. Aku muntah sekali di jam 12, untung aku selalu sedia plastik, yang sebenarnya fungsi awalnya Adalah untuk baju keringku. Yasudahlah, sekarang hanya ada isi perut yang belum tercerna sempurna. Jam 3 pagi aku dikagetkan dengan Fauzan yang tiba-tiba mengguncang tenda kami, “ayok summitttt”

Aku yang memang tidak bisa tidur langsung posisi duduk. Itu bukan suara mas Aziz atau mas Timin, jadi aku ragu.

Kak Conny juga bangun dan bilang pendakian mustahil dilakukan sepagi itu. Aku setuju, aku berharap pendakian bisa dilanjutkan setidaknya di awal fajar.

Tapi entah kenapa, setelah itu aku bisa tidur dengan sangat nyenyak. Saking nyenyaknya sampai saat aku terbangun, seluruh anggota tim sudah diluar tenda dan Bersiap melakukan summit attack. Kak Conny bilang aku sulit dibangunkan, aku terkekeh, “maaf ya.”

Kami melanjutkan pendakian pada pukul setengah lima pagi. Aku hanya membawa jas hujan, minuman isotonic, dan headlamp. Siap melalui tanjakan menjangan.
Perutku masih mual dan kram, aku merasakan tiap Langkah ada guyuran hujan juga. Hawanya tidak terlalu dingin dan angin juga sudah mulai reda. Aku bersyukur kondisinya tidak separah kemarin. Gunung terasa sangat mistis kala itu, hanya ada 13 orang yang berjalan di hamparan bulak peperangan. Berasa VVIP, hanya dibooking untuk kami saja.
Perjalanan itu tidak seberat kemarin, kita gunakan untuk banyak berswafoto dan lari kecil. Pemandangan rumput megah di mataku, bagai adegan film. Seindah apa kelak nanti di surga? Dunia yang Kau ciptakan sudah cukup membuat air mataku mengalir. Ini persis seperti mimpiku. Terbentang luas cakrawala hamparan rumput berpasir, dengan sinar matahari yang berwarna emas, hangat menembus jaketku yang tebal. Wajahku yang kelelahan memantulkan cahaya emas itu.
Di depan mataku, rombongan tim yang penuh senyum, melangkah dengan pasti melalui hamparan sabana tak berujung itu.

Kami tiba di pasar dieng setelah matahari sudah terlihat sempurna. Aku mematikan headlamp dan berjalan Santai di rombongan belakang. Di depanku ada Aldo dan Kak Aziz, yang dengan sabar menungguku berjalan. Di sana, ada komplek warung yang berdiri kokoh di atas ketinggian 3120 mdpl, lebih tinggi dari puncak gunung Prau. Setidaknya ada 5/6 warung yang sayangnya saat itu sedang tutup. Ada juga bangunan kokoh yang dibangun sempurna, lengkap dengan tandon air dan instalasi pipa dan Listrik. Gila, pikirku. Orang-orang hebat jaman dulu membangun peradaban tepat di atas awan. Membentang dari sana, ujung horizon, kabupaten Karanganyar beserta rumah dan jalanan yang terlihat sangat kecil. Kakiku berdiri tegak di atas semua itu.

Haru meliputiku saat akhirnya kakiku yang sudah Lelah menapaki Hargo Dumilah, puncak sejati dari Gunung Lawu, di ketinggian 3265 mdpl. Teman-teman yang sudah berada di sana ikutan menyambutku dengan ceria. Pemandangannya tidak sefantastis gupakan menjangan, atau pasar dieng, tapi sensasinya luar biasa. Luapan rasa Bahagia dan bangga meliputiku, sejenak kulupakan kram perut dan kelelahan yang kurasakan. Aku tidak menghabiskan banyak waktu di atas sana, hanya sekedar foto sebagai bukti kalau aku pernah mencapai puncaknya, yang tentu saja bukan hasil editan atau foto AI. Murni dari kaki kecilku yang berkelana. Semburat sinar matahari menyilaukan mataku, hatiku bagai edelweiss yang mekar tanpa henti sepanjang tahun.

Perjalanan menuju camp area tidak perlu banyak dibicarakan, aku berjalan sambil sedikit lompat. Senang bukan main. Aku menyapa semua orang di jalan, tak terkecuali 3 orang yang Namanya aku sudah lupa, yang ternyata sama keras kepalanya denganku. Yang walaupun kondisinya mengenaskan masih tetap lanjut menuju puncak. Kebebalan mereka kusambut dengan teriakan semangat.

Aku meninggalkan kawananku yang masih berfoto. Sampai di tenda aku melihat mas timin dan mas Aziz menyiapkan sop buah bagi kami yang baru pulang dari puncak. Aku menunggu mereka di tenda sambil beberes, mumpung masih sepi, dan tenda masih cukup ruang untuk ku beberes.

Setelah itu, kujemur bajuku yang basah kemarin, agar bawaan carrier ku tidak terlalu berat. Aku juga menjemur kaos kaki, Sepatu, dan jaketku yang sudah tidak berbentuk. Hitam karena lumpur dan daki. Kami melepas penat dan makan pecel sebagai hidangan terakhir di atas gunung. Pukul 11 tepat, kami semua turun.

Sisanya sepertinya juga tidak perlu banyak dibicarakan. Trek masih sama jahatnya dengan kemarin, dengan banyak sekali tanah becek dan licin, rumput yang menahan kaki, dan ulat bulu. Aku turun dengan hati-hati, karena tidak mau terjadi celaka.

Aku sampai basecamp sekitar pukul 3 sore, dan beberapa menit setelah kutapakkan kaki di basecamp, hujan lebat lagi lagi turun. Puji Tuhan. Semua itu bagai mukjizat. Tuhan menunggu ku sampai di basecamp, menahan hujan itu. Kami ber sebelas lengkap tiba di basecamp dengan selamat, dan tanpa insiden yang berarti. Kami beristirahat dengan berbeda-beda. Si kembar di ujung ruangan memilah foto. Yohana dan Gladys makan mi yang aromanya membuatku kepingin juga. Kak Glenn dan rombongannya sudah merencanakan ekspedisi selanjutnya. Kak Conny, kak Eli dan aku yang mengobrol sambil rebahan. Hingga akhirnya minibus datang menjemput kita untuk kembali ke Jakarta. Aku mengucapkan banyak terimakasih kepada tim, dan ibu penjaga basecamp yang membantu menjaga barang kami selama kami melakukan pendakian. Perjalanan itu membuatku makin percaya diri menjalani hari. Perjalanan yang seru, mengancam nyawa, dan tak akan pernah aku lupakan. Perjalanan spontan dan cenderung impulsif itu membawaku ke pemandangan baru. Pikiran burukku menghilang ditiup angin kejam gupakan menjangan. Rasa sedihku tertinggal di puncak Hargo Dumilah.

Kelak aku akan menjalankan ekspedisi lain. Dan pastinya aku ceritakan ke orang-orang tentang perjalananku.

Aku harap kalian tidak menganggap ini sebuah tantangan, melainkan kisah angin lalu dari seorang gadis biasa yang sedang di fase gampang galau.

Terimakasih sudah membaca. Selalu aku doakan teman-teman sekalian kesehatan lahir batin, dan rasa syukur saat mata kalian terbuka di pagi hari.

Comments

Popular posts from this blog

Keliling Dunia?

Umm, well ... tadi ngga sengaja, waktu bersih bersih ... Aku nemu sebuah buku, kata kakak itu Novel, tapi lihat isinya itu pasti bukan novel (yang bego aku ato kakaku ya?) Disitu dijelaskan seorang wanita backpaker keliling dunia ... Wuiiihhh, kayaknya seru banget bisa melakukan kegiatan seru diluar sana ... Ngga cuman duduk di depan komputer, bengong nunggu e-mail dari temen masuk, ato sekedar maen game, ya kaya aku sekarang. Yah, just says ... Bye!

My Acne Story

Hai semua, langsung aja ya aku mau share ke kalian skin care aku selama ini. Fyi, semenjak SMP kelas 3 aku sudah kena masalah kulit yaitu jerawat, walaupun masih kecil-kecil jadi gak begitu ganggu makanya aku biarin aja, nah baru deh SMA baru kotar katir kebingungan hehe. Ini foto waktu awal Februari 2018, jerawat lagi parah parahnya. Jerawatnya besar, merah, meradang, lama banget kempesnya, dan waktu kempes jadi item banget. Jelek gitu ish. Sudah lumayan banyak produk yang sudah aku pakai dan hasilnya kurang memuaskan :( dan akhirnya di akhir tahun 2018 akhirnya kulitku bisa sangat jauh mendingan dan jerawat cuman muncul saat lagi menjelang haid atau lagi stress berat, itupun cuman 1 atau 2. Trus sekarang aku pakai apa aja untuk merawat wajah unyuku ini? Pagi hari, biasanya aku langsung minum air putih segelas biar bener bener bangun, trus kalau misalnya hari sabtu atau hari libur atau misalnya ga ngapa ngapain seharian, biasanya aku gak cuci muka pakai sabun, bila...